Rabu, 28 April 2021

Ketika Agama Menghadapi Tantangan Sains dan Teknologi

Di beberapa negara maju, proporsi anggota masyarakat yang memeluk keyakinan agama semakin berkurang. Mereka lebih memercayai temuan-temuan dari sains dan teknologi sebagai pemberi pedoman kehidupan mereka sehari-hari. Agama semakin tersingkir perannya dalam memandu dan mengarahkan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai yang dimilikinya.

Apakah masyarakat di negara-negara Muslim akan mengalami hal yang sama? Ini tentu sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan dalam-dalam. Sejauh ini belum terlihat tren seperti itu. Bahkan di Indonesia terdapat kecenderungannya peningkatan ghirah berislam di kalangan kelas menengah dan terdidik. Agama dan ilmu pengetahuan sama-sama memiliki porsi penting dalam kehidupan sehari-hari Muslim Indonesia.

Hubungan agama dan ilmu pengetahuan tak selalu seiring sejalan. Terdapat beberapa model hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan. Pertama, agama dan ilmu pengetahuan saling mendukung. Sejumlah ayat Al-Qur’an secara jelas menjelaskan sebuah fenomena ilmu pengetahuan salah satunya proses penciptaan manusia yang digambarkan jauh sebelum ilmu pengetahuan mampu menjelaskannya secara empiris. Tetapi di sisi lain, terdapat perbedaan pendapat mengenai  manusia pertama di bumi ini terkait dengan turunnya Nabi Adam dan teori evolusi yang dikembangkan oleh Darwin.

Di Eropa, hubungan agama dan pengetahuan sempat mengalami masa-masa suram ketika agama memaksakan kebenarannya. Ilmuwan yang menemukan pengetahuan baru yang berbeda dengan tafsir para pemuka agama mengalami penindasan. Akhirnya hal ini memunculkan gerakan perlawanan berupa sekularisme yang memisahkan agama dengan kehidupan publik. Eropa menjadi maju dengan terbebaskannya para ilmuwan mengembangkan pengetahuannya.  

Agama sifatnya transendental sedangkan ilmu pengetahuan bersifat empiris rasional yang dapat diuji kebenarannya. Ayat-ayat Al-Qur’an bersifat tetap, tetapi tafsirnya dalam mengalami kontekstualisasi sedangkan kebenaran ilmu pengetahuan bersifat relative. Sebuah teori masih dianggap benar jika belum ada teori baru yang membuktikan teori lama itu salah. Dalam beragama kita beriman tentang keberadaan tuhan tanpa mempertanyakan bukti-bukti empiris karena pancaindra manusia tidak mampu menjangkau hal-hal yang sifatnya adikodrati. Akal manusia terlalu terbatas untuk memahami kompeksitas jagad raya ini. Tapi bagi kelompok agnostic atau atheis, maka kebenaran ditunjukkan oleh fakta empiris dan rasionalitas. Kelompok ini menguasai perkembangan dan perubahan dunia.   

Agama dihadapkan pada tantangan tentang kemampuan manusia "menciptakan" hal-hal baru yang dulu hanya bisa dilakukan oleh Tuhan. Kloning sejumlah binatang sudah berhasil dilakukan. Dan dalam beberapa tahun ke depan, hasilnya akan semakin sempurna. Beberapa ilmuwan mungkin masih memandang penciptaan manusia sebagai wilayah tak tersentuh, tetapi beberapa orang memiliki kecenderungan untuk melanggar hukum. Mungkin untuk tujuan popularitas personal atau bagian dari kompetisi sebuah perusahaan atau negara. Dan jika ada satu yang berhasil menciptakan manusia super yang menjadikannya unggul, maka pihak lainnya akan berlomba-lomba mengarahkan sumberdayanya untuk melakukan riset guna meraih keunggulan. Adakah batas bagi ilmuwan untuk menciptakan sesuatu yang dinilainya bukan lagi ranah manusia? Ini pertanyaan sulit. 

Perlombaan untuk meraih inovasi terbaru merupakan upaya meraih keunggulan baik bagi individu, korporasi, atau bahkan negara. Korporasi didirikan untuk meraih tujuan pencarian laba. Hal ini menyebabkan para eksekutifnya harus melakukan berbagai inovasi, yang tentu saja belum tentu sesuai dengan norma-norma agama atau masyarakat. Para pemimpin negara dipilih oleh rakyatnya untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Agama bisa saja menjadi panduan dalam menentukan tujuan negara, tetapi bisa saja tujuan tersebut diarahkan pada hal-hal yang sifatnya sangat materialistik. Ketika tujuan besarnya materialistik, maka nilai-nilai agama bukan menjadi norma.

  

Minggu, 25 April 2021

INKUISISI DI ERA KEGELAPAN

 Saat Zaman Kegelapan Terjadi di Eropa, Peradaban Islam Justru Sedang Dalam Masa Keemasan

Jika membicarakan kondisi abad pertengahan, banyak yang menggambarkannya sebagai Dark Ages alias Zaman Kegelapan. Kondisi yang buruk ini dimulai saat abad kelima. Peradaban Yunani dan Romawi mulai runtuh. Keterpurukan ini terus berlanjut sampai abad kelima belas. Satu milenium berada dalam kegelapan.


Sistem feodalisme dan perbudakan yang mengakar di berbagai daerah

zaman feodal

Pada masa itu feodalisme sangat marak. Orang miskin dibuat untuk terus tetap miskin. Seorang bayi yang terlahir sebagai bangsawan tidak perlu pusing memikirkan nasibnya. Kaum buruh tani yang akan bekerja keras memberi upeti padanya sampai akhir hayatnya.


Kalau dalam istilah Soekarno, para orang miskin ini disebut Marhaen. Orang-orang yang dipaksa tidak punya nasib yang cerah. Ya. Sistem feodal ini memang dibawa ke negeri-negeri jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika. Tepat setelah Dark Ages ini selesai di Eropa, sistem yang sama dipaksakan ke jajahan mereka.


Pemaksaan kepercayaan dan agama oleh penguasa dan pemuka agama

peradaban emas di Andalusia masih tersisa walau sudah dicoba dihapus lewat inkuisisi

peradaban emas di Andalusia masih tersisa walau sudah dicoba dihapus lewat inkuisisi

Pada zaman kegelapan ini, kebebasan untuk memegang kepercayaannya dikekang habis-habisan. Orang-orang yang tidak mau mengikuti agama dan kepercayaan penguasa akan dihabisi.


Sampai saat ini, penduduk Eropa masih mengenang pahitnya pemaksaan agama ini. Di Andalusia, selatan Spanyol, ada museum inquisisi bernama Seville Castillo San Jorge. Museum ini mereka ulang penyiksaan terhadap orang-orang zaman itu yang menolak dengan sadar kepercayaan penguasa.


Jika kita mencari kata kunci “museum inquisition” di google, akan muncul banyak foto cara-cara penyiksaan yang sangat tidak manusiawi. Dalam artikel ini tidak saya masukkan gambarnya karena terlalu mengerikan. Belum lagi inkuisisi di negara-negara lainnya yang mengerikan juga.


Tragedi kemanusiaan besar-besaran ini membuat bangsa Barat trauma akan adanya negara agama. Sampai sekarang, penduduk Eropa sangat anti dengan gagasan konsep agama memegang kekuasaan kembali.


Ilmu pengetahuan tidak berkembang dan mandek

Galileo Galilei dihukum karena ilmu yang ia punya bertentangan dengan gereja

Galileo Galilei dihukum karena ilmu yang ia punya bertentangan dengan gereja

Bukan hanya itu, Dark Ages juga membuat mandeknya perkembangan ilmu pengetahuan.Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang tidak sesuai denganagama yang sedang berkuasa langsung ditolak. Buku Nicolaus Copernicus yang mengumumkan pada penguasa Barat bahwa Bumi mengelilingi matahari dilarang beredar.


Galileo Galilei yang memiliki temuan yang sama bahkan dipenjara oleh komite inkuisisi sampai akhir hayatnya. Alasannya karena kitab yang dipegang penguasa mengatakan Bumilah yang menjadi pusat semesta. Ini yang membuat jarang sekali penemuan di Eropa pada masa kegelapan.


Wabah penyakit yang membunuh ratusan juta manusia

black death menyebabkan kematian besar di eropa

Pada abad ke-14 muncul wabah besar di Eropa yang disebut Black Death. Penyakit yang melanda masih tidak jelas, namun erat kaitannya dengan masalah higienis yang dibawa oleh hama tikus.


Bermula di Italia, menyebar ke seluruh Eropa bahkan hingga ke Tiongkok dan Arab.


Diperkirakan sekitar 75 sampai 200 juta orang meninggal karena tragedi ini. Eropa kehilangan 1/3 penduduknya sementara Tiongkok hampir setengahnya.


Mengapa kematian besar-besaran ini bisa terjadi? Mandeknya ilmu kedokteran di Zaman Kegelapan membuat orang-orang pada masa itu tidak bisa bergerak cepat mengatasi wabah. Eropa tidak mengenal konsep higienis sampai abad ke-19.


Keterpurukan peradaban pada Middle Ages membuat masa-masa ini lebih dikenal dengan Dark Ages. Eropa kehilangan harapan. Kondisi sangat parah. Petrarch, seorang penyair Italia, menggambarkan betapa putus asanya masyarakat Eropa pada masa ini.


“Sudah takdirku hidup di dalam badai yang membingungkan. Tapi mungkin untuk Anda, kuharap Anda dapat hidup lama setelah kumati, akan melewati zaman yang lebih baik. Kelelapan dan kelalaian zaman ini akan berakhir. Ketika kegelapan telah buyar, keturunan kita akan lahir dengan cahaya yang murni.”


Saat Eropa Mengalami Dark Age, di belahan dunia lainnya justru sedang Golden Age

Zaman keemasan bermula dari mukjizat bernama Al Quran

Namun itu semua terjadi di Eropa. Benua yang dulunya sempat jaya lalu hancur moralnya. Di belahan dunia lainnya sebenarnya ada cahaya yang terang benderang.


Di Eropa sangat gelap, agama dan penguasa berkolusi menindas rakyat. Dogma mengikat rakyat erat-erat. Sementara itu di Jazirah Arab, ada peradaban di mana agama, penguasa, dan rakyat bisa hidup dengan harmonis. Dalam buku 1001 Inventions, National Geographic menyebut peradaban ini sebagai Golden Age—zaman keemasan.



Ilmu pengetahuan dan agama berjalan beriringan. Keduanya saling menguatkan. Tidak jarang pemuka agama berprofesi juga menjadi ilmuwan. Pemuka agama di Golden Age ini berperan mengingatkan penguasa, bukan berkolusi dengannya. Kritik terhadap pemimpin sangat dibuka.


Golden Age ini jaya di bawah naungan Islam. Peradaban emas ini adalah peradaban Islam. Peradaban yang terlupakan. Peradaban inilah yang membuat mata Eropa terbuka dan melahirkan Renaisance. Peradaban yang menjadi lilin penyebar cahaya. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk sekitarnya.


Memang 100 tahun terakhir peradaban Islam ini meredup. Yang perlu kita lakukan adalah mempelajari bagaimana cahaya Islam ini pernah menerangi dunia, mengeluarkannya dari kegelapan.


Cahaya Quran ada untuk menyebarkan sejarah cahaya peradaban ini. Melekatkan kembali umat Islam pada identitasnya sebagai pembangun peradaban, pelaku sejarah, pengubah dunia.


Karena selayaknya lentera, sudah menjadi tugas muslim mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Dengan Islam, zaman kegelapan tidak perlu ada. Yang ada hanyalah masa-masa keemasan peradaban dunia.

Minggu, 18 April 2021

Kemajuan Peradaban Islam, Pendidikan, dan Kebangkitan Kaum Intelektual

 Dalam literatur sejarah Islam, Baghdad dikenal sebagai pusat peradaban Islam, baik dalam bidang sains, budaya dan sastra. Kemajuan peradaban ini menghadirkan Baghdad sebagai kota para intelektual, tidak hanya orang arab yang hadir, bangsa Eropa, Persia, Cina, India serta Afrika turut hadir mengisi atmosfer pengetahuan disini. 

Masa kekhalifahan Abbasiyah ini lah yang dikenal berkembang pesatnya pengetahuan. Pada masa ini banyak sekali bermunculan intelektual-intelektual muslim baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun ilmu agama. Dalam masa kekhalifahan Abbasiyah keadaaan sosial ekonomi pun berkembang dengan baik. Seperti halnya dalam bidang pertanian maupun perdagangan. Masyarakat pada masa itu mampu mengatur tatanan kehidupannya dengan baik, hingga dikenal sebagai negeri masyhur dan makmur. 

Pada masa kerajaan Abbasiyah kekuasaan Islam bertambah luas. Masyarakat dibagi atas dua kelompok yaitu kelompok khusus dan kelompok umum, kelompok umum terdiri dari Seniman, ulama, fuqoha, pujangga, saudagar, pengusaha kaum buruh, dan para petani sedangkan kelompok khusus terdiri dari khalifah, keluarga khalifah, para bangsawan, dan petugas-petugas Negara. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, para khalifah banyak mendukung perkembangan tersebut, terlihat dari banyaknya buku-buku bahasa asing yang diterjemahkan kedalam bahasa arab, dan lahirnya para kaum intelektual.

Rabu, 07 April 2021

IPTEK DAN PERADABAN ILMU

 Nama : Kiki Abdul Malik

Kelas: Reguler C
Npm: 191106011589
ISLAM DISIPLIN ILMU

ILMU

Menurut Imam Al – Ghazali ilmu adalah pengenalanan atas dirinya.

=> Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi laki – laki dan perempuan.

=> Setiap orang wajib memiliki sifat keulamaan

=> Ilmu agama harus seimbang dengan Ilmu sains.

=> Ilmu adalah hakim harta

=> Ilmu lebih baik dari harta karena ilmu yang menjaga manusia, sedangkan harta adalah yang dijaga

Pandangan Islam Terhadap Perkembangan IPTEK

Pengaruh Iptek Perkembangan dunia iptek yang demikian pesatnya telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis...